The Police Duet Maut Di Paris Bareng Nidji 2021

The Police Duet Maut Di Paris Bareng Nidji 2021

09/10/2021 Off By thepolicJDFa

The Police Duet Maut Di Paris Bareng Nidji 2021 – Sangat asian menemukan peluang menyaksikan bersatunya kembali tim nada legendaris Inggris, The Police, pada tahun 2007. Semenjak konser terakhir mereka di Melbourne, Australia, 4 Maret 1984, efisien bisa dikatakan The Police mati. Sementara itu dikala itu mereka tengah terletak di posisi pucuk.

thepolicemusic.com Konser di Stade de France, Paris, pada 29 September 2007 merupakan yang awal semenjak 23 tahun mereka bubar. Memanglah, bersatunya kembali Gordon Sumner nama lain Sting, Andy Summers, serta Stewart Copeland kali ini cuma buat kebutuhan rekreasi. Sehabis rekreasi berakhir, berakhir pula riwayat The Police yang dibuat oleh Stewart Copeland pada 1977 itu.

Baca Juga :  Musisi Inggris Terima 17 Grammy Award HUT 70 Tahun Sting The Police

Sangat asian, aku kedapatan nonton momen memiliki tim ini di Stade de France. Sehabis panggung mereka di Paris, The Police meneruskan konsernya di Manchester, Inggris, pada Oktober serta Amerika Sindikat, pada November 2007.

Nah, janganlah kepikiran aku menulis ini karena lagi gayeng- gayengnya pendapat Mengantarkan bekas Nidji, yang mempersoalkan Gubernur Anies Baswedan dalam hubungan menjelang Pilpres 2024.

Di AS, The Police tampak di New York, Atlantic City, Boston, Philadelphia, serta Atlanta, saat sebelum lanjut ke Toronto serta Montreal di Kanada. Aku tuturkan merasa asian, karena kedapatan jawilan free nonton The Police serempak tim nada Nidji.

Nah, janganlah kepikiran aku menulis ini karena lagi gayeng- gayengnya pendapat Mengantarkan bekas Nidji, yang mempersoalkan Gubernur Anies Baswedan dalam hubungan menjelang Pilpres 2024. Sementara itu pilpres sedang cukup lama. Tetapi, karena The Police ialah salah satu tim legendaris Inggris, walaupun tidak bergaung berzaman- zaman, semacam The Beatles, Rolling Stones, atau tim rock Deep Purple.

Mengantarkan Ganesha pergi bersama bersama 5 rekannya seband, ialah juru gendang drum Adri( 24), dasar Andro( 23), gitaris Ariel( 24), gitaris Rama( 23), serta badan paling muda Run D ataupun Randy( 22) di kibor.

Keenamnya sama tua, sedang di dasar 25 tahun serta belum terdapat yang berpolitik. Mereka menemukan peluang nonton The Police karena mencapai apresiasi selaku” band pembawa pergantian”.

Award berbentuk peluang nonton The Police diterima Nidji sehabis menang dalam evaluasi sepanjang susunan rekreasi nada A Mild Live Soundrenaline 2007. Mulai dari Padang( 17 Juli), Palembang( 24 Juli), Bandung( 1 Agustus), Surabaya( 7 Agustus), serta terakhir Denpasar( 13 Agustus). Aku setelah itu jadi salah satunya reporter Indonesia yang asian dijawil buat turut nonton The Police serempak mereka durasi itu.

” Reggae putih”

Stade de France yang jadi posisi konser sebetulnya merupakan alun- alun sepak bola kategori bermutu bumi yang sempat jadi tempat berlangsungnya Piala Bumi Sepak Bola FIFA 1998. Supaya tidak cacat terinjak pemirsa konser, beberapa rumput di alun- alun ditutupi serat lumayan tebal.

Ini menegaskan aku kala nonton konser Deep Purple di Stadion Gairah Senayan( 1975) dengan 80. 000- an pemirsa. Stadion Senayan durasi itu ditutupi tripleks ataupun persisnya multipleks tebal supaya rumputnya tidak cacat.

Gemeretak suara tahap pemirsa terdengar di atas serat Stade de France. Terlebih dikala pemirsa berjingkrak menjajaki nada The Police yang memanglah bisa dikata melodius goyang reggae. Dangdutnya nada Jamaika.

Alat senantiasa menulis, The Police itu” reggae putih”. Terminologi yang lumayan eksklusif karena reggae memanglah asal kelahirannya sama dengan nada terkenal banyak orang Jamaika gelap di Amerika Latin serta diasporanya. Diucap reggae putih sebab memanglah tidak banyak pemusik pop kulit putih yang melilitkan nada mereka dengan entakan nada hangat Jamaika.

” Kamu di mari jumlahnya 80. 000- an kan? Jadi, jumlah tangan kamu di stadion ini terdapat 160. 000. Ayooo, turut tepuk tangan,” kata Sting( Gordon Sumner) dalam bahasa Perancis yang amat mudah.

Seluruh pemirsa warnanya memanglah lebih memahami Sting, sang pembetot bas sekalian vokalis yang suaranya amat diketahui melalui album- album solo Sting. Istimewanya, gitar bas yang dibetot Sting bener- bener gitar jelek, buluk. Catnya banyak mengelupas di sekujur bas Fender Strato itu, yang berperforma khas coklat kekuningan dengan plisir gelap. Mendekati warna gitarnya Jimi Hendrix.

Stadion berkapasitas 81. 000- an orang itu memanglah tidak seluruhnya terisi sebab pentas menutup salah satu bagian tribun. Alhasil pemirsa di depan pentas serta kategori pergelaran malah setengahnya sendiri. Kita memilah berdiri di pergelaran walaupun bisa ajakan bersandar.

Terdapat dekat 40. 000 pemirsa buat kategori sangat ekonomis ini. Nada The Police yang aduk antara rock, punk, serta entakan reggae Jamaika, membuat kaki tergelitik buat mengentak. Breeetaak, breetttak. Hurai! Lebih asik dinikmati di kategori pergelaran. Pemirsa juga marak berteriak- teriak serta berjingkrak.

Di Stadion Paris ini, orang setelah itu kembali diingatkan pada lagu- lagu hit The Police yang sempat maksimum pada tahun 1980- an, semacam” Message in A Bottle” yang jadi lagu pembuka konser.

Berikutnya merupakan lagu- lagu hit platinum mereka, semacam” Roxanne”( 1977),” Outlandos d’ Amour”( 1978),” Regatta de Blanc”( 1979),” Ghost in the Machine”( 1981), ataupun hit terakhir mereka saat sebelum” bubar”,” Every Breath You Take”( 1986).

Gordon Sumner, Andy Summers, Stewart Copeland kembali menggaungkan campuran reggae, pop, serta rock n’ roll, semacam era mereka berhasil. Cinta, mereka cuma bertahan 7 tahun. Sementara itu, mereka lahir dengan sulit lelah dikala Inggris lagi diterpa nada punk pada tahun 1977.

Campuran personel The Police nampak silih memenuhi. Sting menarik dengan lagu ciptaannya. Nyaris seluruh lagu The Police ialah aransemen buatan Sting yang dibawakan pula oleh suara bunyi Sting yang besar serta khas.

Sedangkan Andy Summers membagikan warna khas dengan lentingan gitar listriknya. Begitu pula Stewart Copeland dengan irama drumnya, yang jadi denyut nada The Police.

Energi Sting—yang relatif paling muda di antara personel lainnya—terlihat sedang prima. Baya para badan The Police dikala itu telah di atas kepala 4. Lumayan hebat dapat mengantarkan dengan normal 15 lagu plus 3 bonus, karena pemirsa tidak ingin beranjak meninggalkan stadion. Sangat bergengsi.

Namun yang bagi aku, sangat menarik dari The Police malah sang ahli berumur Andy Summers dengan gitar listriknya. Stewart Copeland pada drum serta perkusi lebih jadi kapten yang memandu aksen musiknya.

Sting,

yang lebih populer di antara mereka sebab bersolo karir, menarik atensi sebab tampak dengan gitar bas kesayangannya. Telah catnya buluk, mengelupas lagi.

Gitar bas berlabel Fender itu jadi nampak khas. Lebih kurang 20 tahun tidak main bersama, toh The Police senantiasa nampak akur dikala bermusik dalam satu tim.

Lagu- lagu” imajinasi”

Performa band pembuka konser nyatanya pula menaruh cerita tidak takluk menarik. Semacam si papa, Joe Sumner( 31), vokalis penting tim nada Inggris Fiction Plane yang jadi pembuka konser The Police, pula membetot bas.

Joe Sumner merupakan anak Gordon Sumner nama lain Sting, dasar The Police. Semacam ayahnya, suara Joe Sumner pula meruap dari lelangit kerongkongan. Tanpa denyut. Sering- kali justru garau….

Beliau pula memperoleh keahlian tampak di atas pentas( performanship) ayahnya. Tidak bingung, sebab Joe Sumner merupakan anak Gordon Sumner dengan seseorang aktris Inggris, Frances Tomelty. Sejam lamanya, dengan penuh yakin diri Joe Sumner serta Fiction Plane mengajak pemirsa Stade de France dengan lagu- lagu khayalnya.

Aturan Fiction Plane benar semacam The Police. Fiction Plane pula tampak dengan aturan three piece band nama lain cuma bermain bertiga. Kedudukan juga mendekati. Joe Sumner nama lain Sting anak bawang merupakan vokalis sambil membetot bas semacam Gordon Sumner.

2 sahabat Joe, Seton Daunt serta Pete Wilhoit, tiap- tiap pegang gitar serta drum. Selama satu jam, vokalisnya pula cuma tunggal. Bila The Police bertumpu penuh pada bunyi Sting nama lain Gordon Sumner, Fiction Plane pula memercayakan sang pemegang bas, Joe Sumner, anak Sting.

Tetapi, kesamaan serupa sekali tidak ditemui pada nada keduanya. Serupa sekali berlainan. Ini dipaparkan oleh Joe, misalnya, dalam suatu memoar Sting, Broken Music.

Joe berterus terang tadinya tidak berkeinginan bermain nada semacam si papa, hingga sesuatu kala, sang kecil Joe mencermati nada dari tim Nirvana. Karena terpukau Nirvana- lah, Joe kemudian bernazar membuat tim nada bersama kawan sekolahnya, Serta Brown serta Olly Taylor.

Awal mula bandnya dipanggil” Santa’ s Boyfriend”. Mereka bermain di London serta sekelilingnya dan merekam sendiri dalam wujud CD. Salah satunya bertajuk” Swings and Roundabouts”.

Sehabis dibiarkan juru gendang drumnya, Olly Taylor, julukan band kemudian diganti jadi Fiction Plane. Mereka setelah itu dikontrak industri rekaman MCA Records serta menelurkan album awal, ialah Everything Will Never Be OK( 2003).

Semacam julukan bandnya yang” tidak ok” di kuping,” Pesawat Khayal”, judul- judul lagu mereka juga sangat khayal, apalagi mengarah fatalistik, semacam” I Wish I Would Die”. Belum lagi jika menelusuri lirik- lirik mereka yang memanglah lebih dekat dengan lirik- lirik Nirvana.

Dalam” Cigarette”, misalnya, Joe tidak main- main dengan liriknya. Coba dengarkan,” Sentuh saya, sebab ayahku banyak…( Touch me, cause my daddy’ s rich…)”. Sebab memanglah Joe merupakan anak orang banyak. Sting, si papa, pastinya pemusik populer yang banyak raya.

Judul- judul lagu dalam album terkini mereka,” Left Side Brain”( 2007), yang mereka bawakan di Paris akhir September itu, misalnya, sangat terasa parah. Ucap saja” Death Machine”, ataupun yang kira- kira khayal yang lain merupakan” Fake Light from the Sun”.

Walaupun alat memperolok- olokkan Fiction Plane selaku” Infant Police”, nama lain sang Anak- anak The Police, tampaknya warna nada mereka lebih dekat dengan tim nada yang lebih” in” pada masanya, semacam Nirvana, The Smashing Pumpkins, serta U2.

Lebih mengundang olok- olok lagi, karena dalam rekreasi bumi tim nada The Police di Eropa, Amerika, serta Australia selama tahun 2007 hingga dini 2008 itu, Fiction Plane nyaris senantiasa diberi peluang jadi band pembuka konser The Police. Mentang- mentang terdapat anak Sting betul?

Walaupun terkesan bergantung si papa, kayaknya Joe Sumner yang alumnus Richmond University, London, bidang Ilmu Area ini, nampak meningkatkan warna musiknya sendiri.

Jauh dari warna nada yang ditorehkan si papa pada tim The Police. Dari lirik- lirik yang mereka lantunkan, sangat, mereka mengekspresikan suatu pernyataan khayal. Pernyataan yang sangat fantasi dalam beberapa lagu- lagu fatalistik mereka….

Nidji mendesak bis mogok

Kemudian apa yang dicoba Nidji dikala nonton The Police di Paris? Mengantarkan, Adri, Andro, Ariel serta Rama larut semacam pemirsa yang lain. Lonjak- lonjak bersama serta teriak- teriak bebas.” Bila lagi…,” tutur mereka. Suaranya bergemeretak di atas kediaman serat yang menutupi hijaunya alun- alun Stade de France.

Sepanjang di Paris, mereka nampak akur serta bersahabat. Hasrat juga sama tua. Naik bis serempak, busnya macet di Champs Elysees lalu didorong serempak. Siapa lagi yang wajib mendesak jika bukan mereka sebab penumpangnya betul cuma mereka, kembali serta berangkat ke penginapan.